oleh

Ketika Guru Dilupakan

Pengorbanan seorang guru mungkin tidak dapat terhitung oleh kita. Bisa kita bayangkan bagaimana ia mampu menciptakan manusia yang luar biasa dan tinggi derajatnya.

Pentingnya pendidikan bagi Indonesia tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan bermaksud untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (Pembukaan UUD 1945) dan merupakan hak asasi manusia dan hak setiap warga negara (pasal 12).

Dalam hal ini, proses pendidikan tidak terlepas dari peranan guru dalam mencerdaskan anak bangsa. Ia sebagai pendidik dan salah satu faktor kunci yang sangat menentukan kualitas pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan.

Karenanya, selain harus mampu menyampaikan pengetahuan melalui berbagai metode dan strategi, pendidik juga harus mampu menjadi teladan bagi siswanya. Ia merupakan sosok yang tanpa tanda jasa. Guru telah memberikan dan mengabdikan dirinya dalam mencerdaskan anak bangsa, seperti mengajari, mendidik, mengasuh, dan memberikan ilmu untuk kita sebagai seorang siswanya.

Bila kita lihat secara saksama, pengorbanan seorang guru mungkin tidak dapat terhitung oleh kita. Bisa kita bayangkan bagaimana ia mampu menciptakan manusia yang luar biasa dan tinggi derajatnya.

Sebagai contoh, kita dapat melihat bagaimana peranan anak bangsa dalam membangun negaranya, khususnya Indonesia. Sebut saja seorang pemimpin negara Indonesia, yaitu Presiden Joko Widodo.

Ketika seorang presiden memimpin suatu negara, tentu tidak terlepas dari ilmu dan pengetahuan. Adapun ilmu pengetahuan tersebut pasti dari seorang pendidik yang memberikan dan menyampaikan pengetahuan melalui berbagai cara dan strategi. Sehingga seorang siswa mampu menerapkan apa yang dia dapat dalam proses pendidikan tersebut.

Persoalannya adalah apakah ketika kita menjadi seorang yang sukses, kita mengingatnya atau datang kepadanya untuk berterima kasih?

Ya, tidak, masih proses berpikir dalam menjawab pertanyaan tersebut. Kalaupun berterima kasih, ya saya rasa itu dalam acara perpisahan sekolah yang diadakan setiap tahunnya dan hanya sebagai formalitas semata dan sebagai agenda tahunan sekolah.

Adapun tulisan saya angkat di sini bukan bermaksud untuk menyudutkan pihak mana pun dan dalam hal apa pun. Selanjutnya bisa kita pastikan sosok profesional, yaitu pendidik yang kadang sering kita lupakan jasa-jasanya ketika seorang siswa telah tumbuh besar hingga menjadi seorang yang luar biasa yang mana dapat memimpin manusia lainnya sering kita melupakan begitu saja.

Apabila setelah berhasil dan meraih apa yang dicita-citakan, di saat itu juga kita melupakan. Bahwa selain orang tua, ada sosok lain yang membuat kita mampu menjadi seorang yang bermanfaat bagi orang lain, yaitu guru.

Di sisi lain, kita melihat bagaimana kehidupan seorang pendidik saat ini, yang mana jauh sekali dari kata sejahtera. Bahkan kita sering mendengar kisah-kisah mereka mencari pekerjaan di luar pekerjaannya sebagai tenaga pendidik.

Sebagai contoh, pekerjaan tersebut, yaitu sambil ngojek, tukang tambal ban, dan sebagainya. Hal itu mereka lakukan untuk menutupi ‘gaji’ yang jauh dari kata cukup. Padahal, jika kita bandingkan bagaimana anggota dewan yang kerjanya hanya duduk, mendengarkan, jalan-jalan study banding yang mana tak jarang menghabiskan anggaran negara.

Lebih lanjut kita cermati saksama, apakah pantas gaji mereka rendah? Hal ini sering kali terjadi di kalangan pendidik honorer yang mengabdikan diri, baik di sekolah swasta maupun negeri. Tak jarang pula mereka sering melakukan aksi demontrasi setiap tahunnya (Memperingati Hari Guru) dalam rangka menuntut akan kesejahteraan.

Jujur, hal ini sangat memprihatinkan jika kita melihat kondisi seperti ini. Sosok seorang guru memberikan ilmu pengetahuan hanya mendapat gaji dengan jumlah yang tidak sepantasnya mereka terima.

Menyoroti hal tersebut, begitu pentingnya penghargaan terhadap pengetahuan itu sendiri dan terhadap orang yang memiliki pengetahuan dalam hal ini guru. Karena profesionalitas guru tidak datang atau terjadi begitu saja.

Akhirnya refleksi ini tidak berarti bagi proses pendidikan dan peranan guru dalam ranah pendidikan tidak memiliki kemajuan berarti. Tetapi refleksi ini lebih pada ajakan untuk memperhatikan begitu pentingnya sosok guru sebagai salah satu faktor kunci dalam pembangunan suatu negara serta tidak melupakan jasa-jasanya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia yang berkualitas nasional dan internasional dalam arti mampu bersaing dengan bangsa lain.