oleh

Peran Partai Politik dalam Mendorong Partisipasi Politik Generasi Muda Digelar di Lapangan Pahlawan Sumbawa

Penulis: Ainul Fadilah dan Ririn Aprilianti (Mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa(UTS) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Jurusan Ilmu Pemerintahan).

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Peran Partai Politik dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Generasi Muda pada Pemilu” sukses digelar pada Sabtu, 09 Mei 2026, bertempat di Lapangan Pahlawan, Kabupaten Sumbawa. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dan mahasiswi dari dua perguruan tinggi, yakni Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) dan Universitas Samawa (UNSA), sebagai wujud nyata keterlibatan akademisi muda dalam mendorong diskusi kritis seputar demokrasi dan partisipasi politik.

Kegiatan FGD tersebut menghadirkan Muhammad Panji Prabu Dharma, S.H., M.H., dosen Fakultas Hukum Universitas Samawa, sebagai pemateri. Dengan latar belakang akademis di bidang hukum dan menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan, beliau memberikan pemaparan yang komprehensif mengenai peran strategis partai politik dalam mendorong keterlibatan generasi muda pada setiap penyelenggaraan pemilu.

Dalam pemaparannya, Muhammad Panji Prabu Dharma menekankan bahwa generasi muda saat ini menempati posisi yang sangat strategis dalam peta perpolitikan Kabupaten Sumbawa. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumbawa, pemilih muda berusia 17–30 tahun diperkirakan mencapai 30–35 persen dari total 374.351 pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024. Namun demikian, keterlibatan aktif mereka dalam kegiatan politik seperti kampanye, diskusi publik, dan pengawasan pemilu masih dinilai belum optimal.

“Partai politik memiliki tanggung jawab besar dalam mendorong partisipasi politik generasi muda. Melalui pendidikan politik yang berkelanjutan, rekrutmen kader muda yang inklusif, serta pemanfaatan teknologi digital secara bijak, partai politik dapat menjadi motor penggerak lahirnya generasi pemilih yang kritis dan bertanggung jawab,” ujar Muhammad Panji Prabu Dharma di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, forum diskusi juga menyoroti sejumlah strategi yang perlu diperkuat oleh partai politik untuk menjangkau pemilih muda, di antaranya penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan politik bagi kader muda secara berkelanjutan, pembentukan sayap kepemudaan sebagai wadah partisipasi yang bermakna, hingga pemanfaatan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan YouTube. Rekrutmen calon legislatif dari kalangan anak muda secara terbuka dan kompetitif juga menjadi salah satu poin penting yang dibahas dalam sesi diskusi.

Di sisi lain, FGD juga mengidentifikasi sejumlah hambatan utama yang menyebabkan rendahnya partisipasi generasi muda, yakni apatisme politik dan rasa tidak percaya terhadap sistem politik, minimnya pendidikan politik formal di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi, persepsi negatif terhadap partai politik akibat maraknya kasus korupsi, serta sistem rekrutmen partai yang masih bersifat hierarkis dan tidak ramah bagi anak muda. Hambatan-hambatan tersebut dinilai berpotensi melemahkan representasi kepentingan generasi muda dalam kebijakan publik.

Data pemilu di Kabupaten Sumbawa sendiri menunjukkan tren yang positif. Pada Pemilu 2019, jumlah pemilih terdaftar mencapai 341.136 orang dengan tingkat partisipasi sekitar 82 persen. Untuk Pemilu 2024, KPU Kabupaten Sumbawa menargetkan peningkatan partisipasi hingga 87 persen, dengan salah satu fokus utama adalah mendorong keterlibatan pemilih muda yang jumlahnya terus bertambah dari pemilu ke pemilu.

Kegiatan FGD berlangsung interaktif dan mendapat antusias tinggi dari para peserta yang hadir. Mahasiswa dari UTS dan UNSA aktif menyampaikan pertanyaan dan tanggapan, khususnya terkait strategi partai politik dalam menjangkau pemilih muda dan cara membangun kepercayaan generasi muda terhadap proses demokrasi. Suasana diskusi yang terbuka dan kritis menjadikan kegiatan ini sebagai salah satu forum akademik yang produktif.

Melalui FGD ini, seluruh peserta diharapkan dapat memahami pentingnya partisipasi politik yang bermakna sekaligus terdorong untuk tidak sekadar menjadi objek mobilisasi suara, melainkan tampil sebagai subjek aktif dalam proses demokrasi. Penguatan kesadaran politik, literasi digital, dan sikap kritis terhadap informasi dinilai menjadi bekal penting bagi generasi muda Sumbawa untuk berpartisipasi secara bermartabat dalam setiap penyelenggaraan pemilu.