oleh

Pantai Maluk Setelah Newmont Hengkang dari KSB

SUMBAWA BARAT – Kawasan Pantai Maluk di Kecamatan Maluk, sebelumnya pernah menjadi primadona bagi wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Keindahan pantai dengan pasir putih seperti butiran merica, air yang bersih dan bening serta kebersihan pantai yang terjaga menjadi daya tarik Pantai Maluk. Selain itu didukung juga dengan ketersediaan berbagai fasilitas umum, mulai toilet, musalla dan tempat mainan anak-anak.

Kondisi Pantai Maluk, di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang terus tergerus akibat abrasi.

Di kawasan Pantai Maluk ini pengunjung bisa dengan mudah mendapatkan menu makanan khas Sumbawa, seperti sepat, singang, ikan bakar, dan bumbu-bumbu yang khas daerah setempat. Fasilitas di pantai ini dibangun dari bantuan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) ketika belum beralih kepemilikan saham menjadi milik pengusaha dalam negeri.

Namun kini, berbagai fasilitas dan keindahan Pantai Maluk sudah mulai lenyap. Bahkan, kondisi Pantai Maluk yang dulu sebelum tahun 2015 nampak hidup dan menggerakan perekonomian pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) penduduk setempat perlahan mulai tidak terawat. Bangunan seperti rumah makan dan fasilitas permainan untuk pengunjung juga sudah tak terurus bahkan rusak. Selain itu atap bangunan rumah makan serta berugak yang dibangun juga tampak rapuh. Belum lagi sampah plastik dan sampah rumah tangga dan ternak yang lainnya semakin membuat kawasan Pantai Maluk seperti kumuh.

Salah seorang warga Maluk, Ayu Kepada media ini mengatakan, pengunjung di pantai ini mulai sepi pengunjung di awal tahun 2017 silam. Tak hanya mulai sepi pengunjung, kondisi kawasan pantai Maluk juga tidak terawat ketika memasuki tahun 2018.

Kondisi tersebut mulai terasa ketika peralihan kepemilikan saham PT NNT. Hal tersebut diperparah lagi dengan mulai banyaknya karyawan PT NNT yang kini berubah nama menjadi PT AMNT yang mengajukan pensiun dini. Selain itu, banyaknya perusahaan subkontraktor yang memangkas tenaga kerjanya. Banyaknya karyawan PT AMNT yang berhenti bekerja sangat terasa dengan kunjungan di Pantai Maluk,” tutur Ayu yang mengaku sudah lebih dari 11 tahun tinggal di Maluk, Sumbawa Barat.

Kondisi Pantai Maluk semakin diperparah karena terjadi terjangan arus gelombang air laut, sehingga menyebabkan abrasi. Berbagai fasilitas di kawasan Pantai Maluk juga rusak oleh abrasi ini.

Warga setempat sendiri ingin kembali melihat pantai Maluk yang bersih dan tertata serta ramai pengunjung. Namun untuk menata kembali pantai ini, warga kesulitan mendapatkan sumber dana. PT AMNT yang diharapkan bisa melakukan penataan kembali, belum dirasakan manfaat kehadirannya. Begitu juga pemerintah daerah setempat belum nampak upayanya memajukan sektor pariwisata daerah.

”Kami inginnya sih diperbaiki lagi. Tapi dananya dari mana?,” kata Ayu. (Dhevan)