Srikandi Cantik PBB Curi Perhatian di Pileg 2024

SUMBAWA BARAT – Pesta demokrasi pemilihan Calon Legislatif (Caleg) DPRD 2024 sebentar lagi dijelang. 

Partai politik dan ratusan Caleg di berbagai Dapil berkompetisi ketat guna merebut hati pemilih.  Setiap pemilu, keterwakilan perempuan bukan hal menarik untuk dibahas. Terkadang hanya fokus urusan logistik, nama besar dan siapa penyokong utama kuat dibelakang.

Tapi, fenomena itu setidaknya sedikit berubah di Pileg 2024 kali ini. Selain Nurjanah, Caleg perempuan dari PDI P, muncul Caleg perempuan yang mencuri perhatian. 

Selain jadi buah bibir karena parasnya yang cantik, Caleg Partai Bulan Bintang (PBB) nomor urut 3 ini ternyata disebut bak kuda hitam dalam pertarungan Pileg tadi. 

“Ada Caleg perempuan PBB yang lagi ramai disebut sebut, tinggal dibelakang kantor Camat Seteluk. Basis keluarganya besar, cukup punya nama,” cetus salah seorang Caleg, partai lain, berbicara di Poto Tano, siang tadi.

Sejumlah warga lainnya di Seteluk menyatakan, dikalangan Caleg perempuan, nama Srikandi PBB ini juga sering disebut sebut dikalangan kompetitornya. Baik di internal partai maupun di partai lain.

“Salain  keluarganya yang besar, dia anaknya berbaur. Sedikit bicara dan jiwa sosialnya tinggi. Tak sungkan bercengkerama dengan lansia dan tetangga,” kata, Hj.Rahma, warga Desa Seteluk Tengah lainnya.

Wartawan media ini sempat dari dekat melihat keseharian, Feni Suhartaty, Caleg PBB nomor 3 Dapil Seteluk, Poto Tano dan Brang Rea, Rabu (7/2).

Feni tinggal di RT 17 RW 10 Dusun Selayar Desa Seteluk Tengah Kecamatan Seteluk. Ayahnya, dipanggil Abah Di, alias Suhardi (59). Dan ibunya, Gandhi (58).

“Endoot, panggilan kecil Feni sangat bersahaja. Gak banyak bicara, banyak membantu orang terutama orang tua dan lansia disini. Itu sejak dulu, sejak dia kecil dan remaja disini, sangat dekat dengan tetangga dan suka membantu,” terang, Martina (52).

Menurut Martina, sejak gadis, Endoot begitu Feni disapa kerap merespon setiap kesusahan warga dan orang tuanya dengan  tenang. Ia, pekerja keras dan rendah hati. 

“Kalau membantu, dia datang. Bertanya dan membantu dalam diam. Kami ingin wakil rakyat kita seperti Feni. Datang, mendengar dan ikut merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” pungkas, demikian, Martina.