oleh

Fud Syaifuddin Potensi Pimpin KSB 2024

SUMBAWA BARAT – Dinamika politik jelang Pilkada serentak 2024 mulai menunjukkan ‘erupsi’. Pengamat dan analisa politik menilai, dinamika poros Pilkada di NTB saling keterkaitan erat antara poros Pemilihan Bupati (Pilbup) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub).

“Sulit dinafikan, poros koalisi parpol pengusung Bupati itu dipengaruhi signifikan dengan poros koalisi partai untuk Pilgub. Karena ini menyangkut strategi pemenangan dan strategi logistik,” kata praktisi media dan analis politik dan juga pentolan Yayasan Datu Seran, Seteluk, Andy Saputra, dalam siaran persnya yang diterima media ini, Kamis (18/4).

Saat ini, kata Andy, lembaga survey kredibel Poltracking Indonesia dalam survey random yang dilakukan 27 hingga 31 Maret 2024 menyebutkan, tingkat elektabilitas tertinggi bakal calon Gubernur masih di puncaki Dr. Zulkieflimansyah. Popularitas bang Zul bahkan menyentuh level 86,1 persen. Sementara tingkat kesukaan dan keterpilihannya mencapai 79,2 persen.

Ditempat kedua, disusul pasangan Bang Zul sendiri, Hj. Siti Rohmi Djalilah dengan popularitas 73,6 persen dan tingkat kesukaannya,  61,67 persen.

“Selain Bang Zul dan Rohmi Djalilah, survey juga menyasar popularitas dan tingkat kesukaan bakal calon gubernur lainnya misalnya ada PJ. Gubernur Lalu Gita Aryadi, Mohan Roliskana, M.Iqbal, Indah Damayanti Putri, Fathul Bahri hingga Bupati Sumbawa Barat, H.W.Musyafirin,” tandasnya.

Lalu mengapa, Fud Syaifuddin, akan memimpin KSB kedepan?. Andy mengatakan, jika partai Nasdem, dimana Fud Syaifuddin bernaung resmi mengusung Zul Rohmi, maka feedback politik pasti juga menguntungkan, Fud Saifuddin. Rasionalnya jika serentak, maka poros Nasdem di Pilkada Gubernur akan inline dengan  Pilkada Bupati.

“Bisa jadi, posisi wakil Bupati mendampingi Fud Syaifuddin dikunci Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Nah, jika PKS resmi maka sulit terbentuknya koalisi baru diluar koalisi Fud Syaifuddin di KSB. Artinya, potensi Pak Fud calon tunggal atau kotak kosong besar sekali,” ungkap, mantan wartawan senior KSB ini.

Menurutnya, jika dilihat hasil survey, H.W Musyafirin sebagai kandidat calon Gubernur misalnya, posisinya paling bontot. Alias hanya mengumpulkan, 9,0 persen popularitas dan kesukaan hanya,8,0 persen. Nilai tawar survey ini tentu membuat partai partai di tingkat DPW NTB berhitung jika memaksakan, Musyafirin digandeng dengan calon Gubernur diluar Zul Rohmi. Ini menurut Andy realitas politik hari ini. Suka tidak suka.

“Kita tahu bersama, jika Musyafirin melakukan endorsement terhadap pasangan Amar Nurmansyah dan Hj.Nani. jika DPW Parpol berhitung panjang dengan figur Musyafirin, tentu mereka juga berhitung panjang jika Pilkada inline dengan koalisi mereka di KSB. Karena, lagi lagi ini menyangkut strategi pemenangan dan logistik alias biaya,” demikian, Andy Saputra.