oleh

Syafruddin Dukung FSKN ‘Berangus’ Raja ‘Abal-Abal’

SUMBAWA BARAT – Selengke warga Desa Seloto Kecamatan Taliwang ternyata masih berkaitan erat dengan keluarga trah Kerajaan yang kini ramai diperbincangkan di Kota Taliwang Sumbawa Barat. Hal itu diakui Syafruddin (Putra Selengke,red) dimana ayahnya satu-satunya laki – laki dari buah perkawinan Bidawasari anak Tunggal dari kerajaan Goa Sulawesi bersuamikan Dea Maraja.

” Jadi, kalo bicara garis keturunan, ayah saya satu-satunya laki-laki. Sementara 3 saudara lainnya, seluruhnya perempuan. Ini artinya, garis darah dari pihak laki-laki yang tentunya lebih erat/kuat atau berhak jika saja menyandang gelar dari kerajaan,” ungkap Syafruddin bercerita tentang asal-usul keluarganya.

Namun begitu, dalam keluarganya, ia tidak mau dikatakan memiliki darah biru atau dipanggil Dea dan segala macamnya. Selain riskan, dalam pandangan orang yang benar-benar memiliki darah biru, salah satu hal yang akan dicari tahu adalah silsilah ataupun asal usul keluarga yang sebenarnya.

Apalagi, sudah sangat jelas sejarah mencatat, Kesultanan Sumbawa dan Kedatuan Taliwang pada masa silam adalah dua pusat kekuasaan yang bersaudara. Siapa Datu Taliwang itu, adalah saudara Sultan Sumbawa. Tidak ada yang kemudian mengaku sebagai Datu Taliwang dan lainnya karena mereka semua bersaudara.

” Saya kira bukan jamannya lagi mengaku-ngaku diri sebagai raja. Kehadiran para raja dalam kehidupan saat ini dengan berbagai klaim yang dimilikinya tentu menjadi sesuatu yang sulit dibenarkan. Saya orang biasa yang juga sama dengan anda,” jelasnya seraya menunjuk awak media.

Syafruddin kembali menegaskan, tidak peduli dengan gelar apa pun yang dimiliki moyangnya terdahulu dan kini. Menurutnya, saat ini hanya ada dua macam bangsawan, yakni bangsawan jiwa dan bangsawan budi.

” Kalau raja sah itu dia adalah penegak tradisi, meluruskan tradisi-tradisi, kemudian merangkum kearifan-kearifan lokal sebagai kapital sosial kebudayaan nasional. Karena puncak dari kebudayan lokal ini adalah kebudayaan nasional,”cetusnya.

Baginya, praktik raja abal-abal jelas sudah merugikan masyarakat karena bermotif hanya untuk mendulang keuntungan materi. Untuk itu ia sepakat jika dalam waktu dekat ini Forum Silaturrahmi Keraton Nusantara (FSKN) akan menggelar Musyawarah Agung Luar Biasa, menghilangkan mereka dari beberapa organisasi karena memang rata-rata ada orang – orang politik ada didalamnya untuk menjadikannya panggung.

” Saya secara pribadi mendukung penuh terlaksananya Musyawarah Agung Luar Biasa ini. Itu sangat penting karena praktiknya kelak pada gilirannya nanti akan memperburuk citra sebuah struktur budaya nasional yang sudah hidup ratusan tahun, yang dijaga dan dilestarikan sebagai kapital sosial bangsa kita dan daerah,” pungkasnya. (SP-02)