SUMBAWA BARAT – Desa Seloto, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), resmi memasuki usia ke-20 tahun. Desa yang pada tahun 2024 lalu mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam ajang Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Nasional Regional IV (wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua) ini terus menunjukkan perkembangan sebagai desa yang mandiri, religius, dan berdaya saing.
Sebagai pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20, Pemerintah Desa Seloto menggelar Tabligh Akbar yang dipusatkan di Masjid Baiturrahman, Desa Seloto,(5/2/2026). Kegiatan tersebut dihadiri ribuan masyarakat yang memadati masjid dan halaman sekitarnya, mencerminkan antusiasme serta kebersamaan warga dalam menyambut momentum bersejarah desa.
Tabligh Akbar ini menghadirkan Ustadz Syamsul Ismail, Lc., seorang tokoh agama yang dikenal luas sebagai pimpinan Pondok Pesantren Himmatul Ummah yang berlokasi di Desa Sapugara Bree, Kabupaten Sumbawa Barat.
Dalam ceramahnya, Ustadz Syamsul Ismail mengulas makna dan filosofi nama Desa Seloto dari berbagai perspektif, yang disebutnya menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat yang religius dan berkarakter islami.
Ia juga menyoroti nilai-nilai keagamaan yang tumbuh dan mengakar kuat di tengah masyarakat Seloto, termasuk kesadaran berbusana muslimah seperti penggunaan jilbab, sebagai refleksi identitas sosial dan budaya desa yang menjunjung tinggi ajaran Islam.
Sementara itu, Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Seloto, Ustadz Khairul Ihwan, S.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas perjalanan Desa Seloto yang telah mencapai usia dua dekade.
Ia menegaskan bahwa hingga kini Desa Seloto terus berkomitmen menjadi desa pelopor bernuansa Islami, dengan keberadaan berbagai pusat pendidikan keagamaan yang menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia.
“Di usia ke-20 ini, Desa Seloto tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan sosial. Kami terus berupaya menjadikan Seloto sebagai desa yang maju, religius, serta mampu bersaing dengan desa-desa lain di Kabupaten Sumbawa Barat,” ujarnya.
Rangkaian Tabligh Akbar ditutup dengan penyerahan cendera mata dari Pemerintah Desa Seloto kepada penceramah, berupa tanaman serta panganan khas desa, di antaranya gula tebu dan tanaman merica, sebagai simbol kearifan lokal dan potensi unggulan desa.
